Penawaran dan Penerimaan dalam Hukum Perjanjian di Indonesia

27 09 2012

Penawaran dan penerimaan dalam Hukum perjanjian di Indonesia sangatlah penting. Hal ini dikarenakan penawaran dan penerimaan sangat berhubungan dengan salah satu syarat sahnya perjanjian yang terdapat di dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu syarat sepakat (the consent of those who bind themselves). Syarat sepakat ini dalam hukum kontrak dikenal dengan asas konsensualisme. Asas konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.[1]

 

Dengan adanya kata sepakat untuk mengadakan perjanjian diantara para pihak, maka pada saat itu juga telah terjadi persetujuan atas pernyataan kehendak dari masing-masing pihak (overeenstemende wilsverklaring) yaitu berupa pernyataan para pihak yang menerima tawaran dinamakan ekseptasi.[2] Kesepakatan atau persetujuan kehendak itu merupakan hal yang paling penting dalam pembuatan perjanjian, sebab secara umum tidak terlalu diperlukan bentuk formal agar perjanjian itu mengikat secara hukum, kecuali hukum menentukan secara khusus yang juga memerlukan ketentuan lainnya seperti pendirian sebuah perseroan terbatas yang harus dengan akta notaris.[3]

Dengan demikian, ketika suatu penawaran tentang hal tertentu  yang diajukan oleh salah satu pihak (offeror[4]) dan diterima oleh pihak lainnya (offeree[5]), maka pada saat itulah terjadinya persesuaian kehendak (meeting of minds) dari kedua belah pihak atau lebih tentang hal yang ditawarkan itu. Sebaliknya, ketika suatu penawaran telah dibuat dan ditawarkan, maka penawaran itu tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi para pihak jika penawaran itu tidak diterima offeree, sebab keberadaan suatu perjanjian didasarkan pada persetujuan.

Kata sepakat sebagaimana dijelaskan di atas, dimulai dengan suatu penawaran yang dilakukan oleh pihak yang menawarkan (offeror). An offer is an expression of willingness to contract on certain terms, made with the intention that it shall become binding as soon as it is accepted by the person to whom it is addressed.[6] Dari pengertian tersebut dapat kita mengerti bahwa penawaran adalah ekspresi dari keinginan untuk membuat perjanjian dan akan mengikat setelah penawaran itu diterima.

 

Offeror    : “In contract, the party who makes the offer and looks for acceptance from the oferee.[7]

Offeror    : merupakan pihak yang membuat penawaran (offer) dan mengharapkan penerimaan dari pihak lainnya (oferee)

 

Oferee     : “in contract, the person to whom an offer is made by the offeror.”[8]

Oferee     : dalam suatu perjanjian adalah orang yang menjadi tujuan dari suatu penawaran yang dibuat oleh offeror.

 

Pihak yang menawarkan (offeror) maupun pihak yang ditawarkan (oferee) dapat berupa orang ataupun perusahaan (badan hukum). Dalam suatu perusahaan yang menjadi perhatian adalah mengenai kewenangan dari para pihak yang mewakili perusahaan, sebab pihak-pihak haruslah berwenang atau setidaknya mendapatkan kuasa dari pengurus perusahaan. Hal ini berkaitan dengan doktrin ultra vires yang membatasi wewenang dari seseorang yang berhak mewakili perusahaan.[9]

 

Penerimaan (acceptance) berdasarkan jenisnya ada 3 bagian:[10]

  1. Cepat (express), dilakukan secara langsung dan mutlak yang merupakan manifestasi dari suatu perjanjian seperti “saya menerima tawaran anda”.[11]
  2. Tidak langsung (implied) suatu tindakan yang dilakukan oleh offeree yang menunjukkan menerima suatu tawaran.
  3. Dengan syarat (conditional), suatu penerimaan dapat dilakukan jika syarat penerimaan itu dilaksanakan oleh offeror dengan adanya syarat itu, pada saat itu juga terjadi penawaran kembali (counter offer).

 

Dalam hukum perjanjian di Indonesia sebagaimana diatur pada buku ketiga KUHPerdata tidak memberikan suatu tempat khusus dari offer dan acceptance tersebut. Khususnya mengenai bagaimana penawaran harus dimulai dan dibuat, bentuknya seperti apa, dan bagaimana dengan penerimaan, tidak diatur dalam KUHPerdata-tidak seperti pengaturan offer dan acceptance yang jauh lebih lengkap dalam common law. Tetapi secara umum dan nyata dalam praktik, saya sepakat bahwa, setiap perjanjian harus dimulai dengan suatu penawaran dan diakhiri dengan penerimaan, namun mengenai cara melakukan dan bentuk penawaran dan penerimaan perlu ditentukan secara tegas.[12] Demikian penjelasan singkat dari saya. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

 

Daftar Pustaka

 

Black, Henry  Cambell, Black’s Law Dictionary, 8th edition, United States of America: West Publishing Co, 2004.

 

Gautama, Sudargo, Essay in Indonesia Law, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1991.

 

H.S., Salim, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

 

Hutabarat, Samuel M.P., Penawaran Dan Penerimaan Dalam Hukum Perjanjian, Jakarta: Kompas Gramedia, 2012.

 

Projodikoro, Wirjono, Azas-azas Hukum Perjanjian, Bandung: CV. Mandar Maju, 2011.

 


[1] H.S., Salim, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hlm. 10

[2] Hutabarat, Samuel M.P., Penawaran Dan Penerimaan Dalam Hukum Perjanjian, Jakarta: Kompas Gramedia, 2012, hlm. 35

[3] Gautama, Sudargo, Essay in Indonesia Law, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1991, hlm. 188-189

[4] Black, Henry  Cambell, Black’s Law Dictionary, 8th edition, United States of America: West Publishing Co, 2004, hlm. 1114 : “Offeror: one who makes an offer

[5] Ibid : “Offeree: one to whom an offer is made

[6] Hutabarat, Samuel M.P., op.cit., hlm. 81

[7] Ibid, hlm. 90

[8] Ibid.

[9] Ibid., hlm. 85

[10] Ibid, hlm. 92

[11] Projodikoro, Wirjono, Azas-azas Hukum Perjanjian, Bandung: CV. Mandar Maju, 2011, hlm. 29 : “Tentang hal ini tidak ada kesulitan, apabila kedua belah pihak pada suatu waktu bersama-sama berada di suatu tempat dan pada waktu dan tempat itu juga mencapai persesuaian penawaran dan penerimaan.”

[12] Hutabarat, Samuel M.P., op.cit., hlm. 100


Aksi

Information

One response

2 10 2012
joy90210

Reblogged this on joy90210.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: