Bank Salah Transfer, Siapa yang salah?

15 07 2011

Seandainya ketika anda memeriksa rekening anda, anda menemukan jumlah uang di dalamnya bertambah Rp 100 juta tanpa anda ketahui darimana asalnya, mengingat jumlah gaji anda yang tidak sebanyak itu, apa yang akan anda lakukan?

Ada yang langsung membeli kamera D-SLR baru, ada yang langsung mencicil rumah, ada yang langsung membeli motor, dsb.

Lalu tiba-tiba, pihak Bank menelepon anda dan memberitahu bahwa mereka melakukan kesalahan transfer dan pihak bank mengakui kesalahannya menginput transaksi ke rekenin tabungan atas nama anda tersebut.

Apa reaksi anda? Apakah anda akan bersikeras bahwa itu bukan kesalahan anda, dan anda sudah menghabiskan uang tersebut. anda bersikeras bahwa itu adalah resiko dari bank.

Cerita di atas adalah cerita yang saya karang, namun beberapa kali terjadi di masyarakat. Bagaimana pandangan hukum atas kejadian di atas? Apa akibat atau dampak hukum dari kejadian tersebut? Berikut adalah analisis saya:

Pasal 1359 KUHPerdata berbunyi:

”Tiap pembayaran mengandaikan adanya suatu utang; apa yang telah dibayar tanpa diwajibkan untuk itu, dapat dituntut kembali. Terhadap perikatan bebas yang secara sukarela telah dipenuhi, tak dapat dilakukan penuntutan kembali”.

Pasal tersebut di atas menyatakan bahwa setiap pembayaran yang dilakukan oleh siapa saja, baik orang maupun badan hukum, dianggap dilakukan karena telah terjadi perikatan diantara para pihak. Pembayaran uang itu dilakukan karena orang yang membayar ”wajib” untuk membayar ”utang” yang dia punya kepada pihak penerima uang tersebut.

Perikatan yang timbul dapat disebabkan karena perjanjian, maupun karena undang-undang (Pasal 1233 KUHPerdata). Menurut Pasal 1234 KUHPerdata, ”Tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.” dan kalau perikatan itu lahir dari perjanjian, maka perjanjian itu berlaku sebagai undang-undang (wajib dilakukan) bagi para pihak.

Apabila pasal tersebut dihubungkan dengan Pasal 1359 KUHPerdata, maka makna dari ”wajib” pada pasal 1359 adalah untuk memberikan sesuatu (dalam kasus di atas adalah uang).

Jadi, pasal 1359 KUHPerdata di atas dapat diinterpretasikan bahwa setiap pembayaran yang dilakukan siapa pun juga, kepada siapapun juga, dianggap, bahwa orang yang membayar tersebut memiliki utang kepada si penerima uang, dimana orang yang membayar tersebut ”wajib” membayar uang akibat utangnya.

Lalu, rumusan selanjutnya dari Pasal 1359 adalah “apa yang telah dibayar tanpa diwajibkan untuk itu, dapat dituntut kembali.”

Jika melihat kepada penjelasan di atas, maka dapat kita interpretasikan bahwa kalau seseorang melakukan suatu pembayaran, tetapi, dia melakukan itu bukan karena wajib untuk melakukan pembayaran tersebut (dia tidak wajib membayar), maka, apa yang sudah dia bayar dapat diminta kembali.

Seseorang yang melakukan pembayaran tanpa ada perikatan (baik karena perjanjian atau undang-undang) yang mewajibkan dia untuk membayar, maka dia dapat menuntut kembali pembayarannya itu.

Kembali kepada kasus di atas. Bank melakukan transfer bukan karena ada perikatan di antara bank dan anda yang mewajibkan bank untuk membayar uang Rp 100 juta kepada anda. Bank tidak wajib untuk membayar uang tersebut kepada anda. Bank melakukan transfer tersebut karena kesalahan bank.

Berdasarkan Pasal 1359 KUHPerdata dan penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa karena bank tidak diwajibkan untuk membayar uang tersebut kepada anda, maka bank dapat menuntut kembali uang yang sudah ia transfer kepada anda tersebut.

Demikian penjelasan singkat dari saya. Saran saya untuk para pembaca adalah untuk berhati-hati dan memeriksa dengan seksama setiap sumber uang yang masuk ke anda, dan jangan sembarang menggunakan sesuatu yang belum anda pastikan merupakan milik anda yang sah. Kita lebih baik berhati-hati agar meminimalisasi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kiranya bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.


Aksi

Information

2 responses

15 07 2011
jojo

trus gmn cel kl uang yg sdh salah transfer td telah terpakai untuk membeli barang yang nilainy cepat surut..misal kendaraan bermotor.. apakah cukup dengan menyerahkan barang yg sudah dibeli tersebut, kt sdh bebas dr kewajiban “mengembalikan” kita terhadap bank? atau haruskah kita mengembalikan sesuai dengan ap yang sudah kt pakai?

19 07 2011
marsel afredo rezky tampubolon

Pasal 1359 KUHPerdata berbunyi:

”Tiap pembayaran mengandaikan adanya suatu utang; apa yang telah dibayar tanpa diwajibkan untuk itu, dapat dituntut kembali. Terhadap perikatan bebas yang secara sukarela telah dipenuhi, tak dapat dilakukan penuntutan kembali”.

Pasal di atas menyatakan bahwa orang pihak yang membayar tapi tidak diwajibkan untuk itu dapat menuntut kembali apa yang sudah ia bayar tersebut. artinya, berapa jumlah yang ia bayar, maka sejumlah itu pula dapat ia tuntut kembali. hal ini hampir sama dengan dampak dari batal demi hukum yang mengembalikan semuanya seperti keadaan yang semula. jadi, sesuai dengan pertanyaan jojo, kalau uang pembayaran tersebut dibelikan barang yang nilainya cepat surut, maka, tetap saja orang tersebut harus mengembalikan uang yang ditransfer itu “senilai” dengan apa yang sudah di transfer oleh bank.

demikian jawaban dari saya. semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: