Cinta Indonesia? Mari kawal kasus Bibit dan Chandra

5 11 2009

Korupsi merugikan keuangan Negara, perekonomian Negara, dan menghambat pembangunan nasional, sehingga korupsi harus di berantas. Untuk memberantas korupsi tidak bisa masyarakat turun tangan langsung untuk menanganinya, melainkan harus melalui lembaga yudikatif/lembaga penegak hukum yang ada. Lembaga-lembaga itu adalah POLRI, Kejaksaan, Kehakiman. Tetapi seiring berjalannya waktu, pemberantasan korupsi yang dilakukan lembaga-lembaga tersebut, khususnya POLRI dan Kejaksaan belum berjalan maksimal, sehingga dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam waktu singkat KPK berhasil meyakinkan masyarakat dengan kinerja mereka dalam memberantas korupsi yang dipandang masyarakat cukup baik. Tetapi sangat disayangkan belakangan ini muncul kasus-kasus yang melibatkan petinggi-petinggi KPK. Diawali dengan kasus Antasari dalam dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Lalu, Antasari membuat testimoni tentang penerimaan uang sebesar Rp 6,7 miliar oleh sejumlah pimpinan KPK pada 16 mei 2009. Karena testimoni tidak ditindaklanjuti polisi, Antasari lalu membuat laporan resmi pada 6 Juli 2009 mengenai dugaan suap itu di Polda Metro Jaya. Laporan itu kemudian dilimpahkan ke Mabes Polri, lalu dilanjutkan ke penyelidikan dan penyidikan yang akhirnya menyeret Bibit S Riyanto dan Chandra Hamzah dengan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh kedua tersangka yang melanggar Pasal 21 Ayat 5 UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK.

Ternyata KPK memiliki sebuah bukti pamungkas yang menyatakan bahwa kasus yang dikenakan kepada Bibit dan Chandra adalah rekayasa yaitu melalui rekaman pembicaraan Anggodo dengan beberapa oknum, baik dari kepolisian, kejaksaan, dan pihak lain. Mengingat bahwa Anggodo adalah adik kandung dari Anggoro Widjaja, buronan KPK dalam kasus dugaan korupsi proyek sistem komunikasi radio terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan. Jadi, apabila KPK dilemahkan, maka kasus-kasus besar termasuk kasus Anggoro tidak akan berjalan.

Berkaca pada permasalahan pelik yang terjadi saat ini yang melibatkan lembaga negara penegak hukum membuat masyarakat menjadi bingung mau mendukung mana. Tetapi melihat bukti rekaman yang dimiliki KPK saat ini sangatlah kuat, maka banyak masyarakat saat ini yang mendukung KPK serta Bibit dan Chandra dan menuntut agar Anggodo serta pihak-pihak yang terlibat dalam rekaman tersebut disidik, sekalipun dia adalah seorang petinggi di lembaga negara.

Sangat disayangkan pada 4 November 2009 POLRI membebaskan Anggodo, setelah sebelumnya ditangkap pada 3 November dengan alasan belum ada bukti yang kuat. Padahal menurut Pasal 21 KUHAP, cukup dua bukti maka orang itu dapat diproses dan ditahan. Dalam kasus ini, rekaman pembicaraan Anggodo adalah bukti yang kuat + laporan maka sudah terkumpul alasan yang kuat untuk menahan Anggodo. Perlu diingat bahwa kasus ini adalah tergolong kejahatan kerah putih yang sangat sulit mencari barang bukti, karena itu, bukti rekaman adalah bukti yang sangat kuat karena sangat susah mencari bukti yang lainnya.

Tetapi, saat ini saya menghimbau semua masyarakat Indonesia. Mari kita dukung pemberantasan korupsi di Indonesia. Kita awasi bersama-sama langkah yang dilakukan POLRI, Kejaksaan, KPK, Tim Pencari Fakta, Anggodo, dll dalam kasus ini. Mari kita kawal kasus ini sehingga dapat terbuka dengan jelas apakah ini adalah rekayasa untuk melemahkan lembaga ad hoc pemberantasan korupsi kita? Semuanya ada di tangan rakyat untuk mengawal kebenaran ini.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: