Validitas Rekaman Sebagai Bukti Dalam Perkara Pidana

14 02 2010

rekamanBelakangan ini banyak kasus hukum yang terjadi di Indonesia yang memakai  rekaman sebagai bukti dalam persidangan. Artalyta Suryani, Anggodo Wijaya, Antasari Azhar, dll. Yang menjadi pertanyaan adalah mengenai validitas dari rekaman itu sebagai bukti dalam persidangan pidana. Saya akan menjelaskannya menurut undang-undang.

Pasal 184 ayat (1) KUHAP mengatur sebagai berikut:

Alat bukti yang sah adalah:

  1. a. keterangan saksi;
  2. b. keterangan ahli;
  3. c. surat;
  4. d. petunjuk;
  5. keterangan terdakwa.

Di dalam KUHAP tidak diatur mengenai rekaman sebagai alat bukti. Karena itu, di dalam kasus tindak pidana umum, maka pemakaian rekaman bukan merupakan alat bukti yang sah.

Tetapi, ada pengecualian pemakaian rekaman di dalam tindak pidana khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 26 A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001:

”Alat bukti yang dalam bentuk petunjuk sebagai mana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari:

  1. a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
  2. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.”

Berdasarkan ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP jo. Pasal 26 A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tersebut di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa rekaman pembicaraan seseorang dapat dijadikan sebagai alat bukti petunjuk dalam perkara tindak pidana korupsi.

Sudah sangat jelas bahwa hukum positif kita mengatur mengenai hal tersebut. Dan masyarakat hukum Indonesia bisa memilah-milah mana yang bukti yang sah dan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi hakim dalam kasus yang ditangani. Demikianlah paparan yang bisa saya berikan bagi para pembaca, semoga bermanfaat dan membuka pemikiran serta menjadi berkat bagi kita semua.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: